Umum

Siapakah Bung Tomo? Profil dan Perjuangan Pahlawan Pertempuran 10 November

Oleh indopedia 6 menit baca

Ilustrasi siapakah Bung Tomo: mikrofon radio klasik, Tugu Pahlawan, dan bendera merah putih sebagai simbol pidato 10 November 1945

Setiap menjelang 10 November, nama Bung Tomo hampir selalu muncul. Foto hitam putihnya yang sedang berorasi di depan mikrofon dengan sorot mata tajam telah menjadi salah satu gambar paling ikonik dalam sejarah Indonesia. Namun, siapakah Bung Tomo sebenarnya, dan mengapa namanya begitu lekat dengan Hari Pahlawan? Artikel ini mengulas profil, perjuangan, hingga warisan sang pahlawan dari Surabaya, agar kita mengenalnya lebih dari sekadar potongan pidato.

Profil Singkat Bung Tomo

Bung Tomo bernama asli Sutomo. Kata “Bung” adalah sapaan akrab pada masa revolusi yang berarti saudara atau kawan. Ia dikenal sebagai wartawan, pejuang, dan orator yang membakar semangat rakyat Surabaya pada Pertempuran 10 November 1945.

Keterangan Rincian
Nama lengkap Sutomo (Bung Tomo)
Lahir 3 Oktober 1920, Kampung Blauran, Surabaya
Wafat 7 Oktober 1981, Padang Arafah, Arab Saudi (saat ibadah haji)
Pekerjaan Jurnalis dan pemimpin laskar
Organisasi Pendiri dan pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI)
Istri Sulistina Sutomo (menikah pada 9 Juni 1947)
Gelar Pahlawan Nasional (Keppres No. 041/TK/Tahun 2008)
Makam Tempat Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya

Masa Kecil dan Awal Kehidupan

Sutomo lahir di Kampung Blauran, di pusat Kota Surabaya, dari keluarga kelas menengah. Ayahnya, Kartawan Tjiptowidjojo, bekerja sebagai pegawai, sedangkan ibunya berdarah campuran Jawa, Sunda, dan Madura. Ia sempat mengenyam pendidikan menengah di sekolah berbahasa Belanda sebelum masa pendudukan Jepang.

Sejak muda, Sutomo aktif di organisasi kepanduan. Pada usia 17 tahun, ia mencapai tingkat Pramuka Garuda, sebuah capaian yang pada masa itu hanya diraih segelintir orang Indonesia. Dari sinilah terlihat sifat disiplin dan jiwa kepemimpinannya mulai terbentuk.

Dari Dunia Jurnalistik ke Panggung Perjuangan

Sutomo memulai karier sebagai wartawan. Pada 1938, ia menjadi redaktur mingguan Pembela Rakjat. Di masa pendudukan Jepang, ia bekerja di kantor berita Domei di Surabaya. Pengalaman ini mengasah kemampuannya menyusun kata dan memahami kekuatan media. Keahlian itu kelak menjadi senjata utamanya ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Latar Belakang Pertempuran Surabaya

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan dari upaya kembalinya pemerintahan kolonial. Pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris tiba di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Ketegangan meningkat dengan cepat, hingga puncaknya pada 30 Oktober 1945 ketika Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, komandan pasukan Inggris di Jawa Timur, tewas dalam bentrokan di dekat Jembatan Merah.

Inggris marah, dan Mayor Jenderal E.C. Mansergh, pengganti Mallaby, mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945. Isinya meminta para pejuang menyerahkan senjata paling lambat 10 November 1945 pukul 06.00. Para pemimpin dan rakyat Surabaya menolak, dan pertempuran besar pun pecah.

BPRI dan Radio Pemberontakan

Pada 12 Oktober 1945, Sutomo mendirikan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) dan memimpinnya. Laskar ini bertujuan mempertahankan kemerdekaan serta menghimpun perlawanan rakyat terhadap upaya kembalinya penjajahan.

Bung Tomo juga dikenal lewat Radio Pemberontakan, siaran yang ia gunakan untuk menyampaikan seruan perjuangan kepada para pemuda. Gaya bicaranya yang berapi-api, lantang, dan penuh emosi mampu menggerakkan hati banyak orang. Pidatonya pada 9 November 1945, sehari sebelum pertempuran memuncak, menjadi yang paling terkenal. Seruan penutupnya, “Merdeka atau mati!”, dibarengi pekik takbir, menjadi simbol tekad rakyat untuk tidak menyerah.

Bagaimana Peran Bung Tomo di Pertempuran 10 November?

Peran utama Bung Tomo adalah sebagai penggerak semangat perlawanan lewat radio dan organisasi laskar. Soal keberadaannya tepat pada hari pertempuran, para sejarawan dan penulis memiliki catatan yang berbeda. Putranya menyebut ia ikut berada di tengah pertempuran, sementara sebagian penulis lain menyebut ia berpindah ke Malang agar bisa terus berpidato lewat siaran radio. Apa pun rinciannya, pengaruh suaranya pada semangat juang rakyat diakui luas.

Pertempuran Surabaya sendiri berlangsung sengit dan memakan banyak korban dari pihak Indonesia. Meski secara militer Indonesia terdesak, perlawanan itu menarik perhatian dunia dan menjadi simbol keberanian dalam mempertahankan kemerdekaan.

Kiprah Bung Tomo Setelah Kemerdekaan

Setelah masa revolusi, Bung Tomo terus berkiprah di pemerintahan dan kehidupan politik:

  • Menteri Negara. Pada 1955 hingga 1956, ia menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata di Kabinet Burhanuddin Harahap, dan sempat merangkap Menteri Sosial ad interim pada awal 1956.
  • Sikap kritis. Ia dikenal berani menyuarakan kritik kepada penguasa. Pada 1960, misalnya, ia menggugat Presiden Soekarno terkait pembubaran DPR.
  • Masa Orde Baru. Awalnya mendukung pemerintahan baru, ia kemudian menentang sejumlah kebijakannya dan pada April 1978 ditahan karena kritiknya terhadap korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Sikap kritis ini menunjukkan bahwa semangat juang Bung Tomo tidak berhenti setelah penjajah pergi. Ia terus memperjuangkan keadilan bagi rakyat.

Wafat dan Pemakamannya

Bung Tomo wafat pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah, Arab Saudi, saat menunaikan ibadah haji. Sebelum meninggal, ia sempat menyelesaikan draf disertasi tentang peran agama dalam pembangunan tingkat desa. Jenazahnya dibawa pulang dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya, bukan di taman makam pahlawan. Disebutkan bahwa ia memang tidak berkeinginan dimakamkan di sana.

Gelar Pahlawan Nasional

Meski jasanya besar, gelar Pahlawan Nasional baru diberikan kepada Bung Tomo pada 2008, atau 27 tahun setelah wafatnya. Pemberian gelar ini sempat melewati perdebatan panjang dan desakan sejumlah pihak, di antaranya GP Ansor dan Fraksi Partai Golkar di DPR. Gelar itu ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/Tahun 2008 dan dianugerahkan bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November 2008.

Hubungannya dengan Hari Pahlawan

Peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 oleh Presiden Soekarno. Penetapan itu terjadi 14 tahun setelah pertempuran, untuk menghormati jasa para pejuang. Bung Tomo hanyalah satu dari banyak pahlawan dalam peristiwa tersebut, tetapi namanya paling sering dikenang karena pidato-pidatonya yang membekas. Jika Anda ingin mengenal lebih jauh tokoh dan tempat bersejarah lain di Indonesia, baca juga sejarah Gelora Bung Karno serta artikel tentang Hari Inovasi Nasional Indonesia.

Warisan dan Teladan dari Bung Tomo

  • Keberanian. Tekadnya membela kemerdekaan, bahkan ketika menghadapi pasukan yang lebih kuat.
  • Kekuatan komunikasi. Ia menunjukkan bahwa kata-kata yang disampaikan dengan tulus bisa menggerakkan banyak orang.
  • Keberanian menyuarakan kebenaran. Ia tetap kritis meski berhadapan dengan penguasa.
  • Kesederhanaan. Ia memilih dimakamkan di pemakaman umum, dekat dengan rakyat.

Namanya kini diabadikan di berbagai tempat, termasuk Stadion Gelora Bung Tomo di Surabaya. Cara terbaik menghormatinya bukan sekadar mengenang pidatonya, tetapi meneladani semangat dan keberaniannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Siapa nama asli Bung Tomo?

Nama aslinya adalah Sutomo. Sapaan “Bung Tomo” adalah panggilan akrab yang diberikan rakyat.

Kapan Bung Tomo lahir dan wafat?

Ia lahir pada 3 Oktober 1920 di Surabaya dan wafat pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah saat menunaikan ibadah haji.

Mengapa Bung Tomo terkenal?

Karena perannya membangkitkan semangat rakyat Surabaya melalui pidato radio dan memimpin BPRI pada masa Pertempuran Surabaya 10 November 1945.

Apa semboyan terkenal Bung Tomo?

Semboyan yang paling dikenal adalah “Merdeka atau mati!”.

Kapan Bung Tomo diangkat menjadi Pahlawan Nasional?

Pada 2008, melalui Keppres Nomor 041/TK/Tahun 2008, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Kesimpulan

Siapakah Bung Tomo? Ia adalah Sutomo, wartawan dan pemimpin laskar dari Surabaya yang suaranya menjadi pemantik semangat arek-arek Suroboyo pada Pertempuran 10 November 1945. Perjuangannya tidak berhenti di medan perang, sebab ia terus bersuara kritis demi keadilan hingga akhir hayat. Menjelang Hari Pahlawan, mari mengenang jasa Bung Tomo dan para pejuang lainnya, serta melanjutkan semangat mereka dengan mengisi kemerdekaan melalui hal-hal baik di bidang masing-masing.